July 31, 2020

ISK, Sebuah Perjalanan Panjang Meraih Kesembuhan (Part 3)

Assalamualaikum semuanya... Baiklah saya lanjutkan lagi yah kisah perjuanganku untuk sembuh total dari ISK. Di Part 2 saya telah memeriksakan diri ke spesialis penyakit dalam pada bulan Juni 2019. Resep obat telah ditebus dan obat telah saya minum sesuai anjuran. Namun ISK saya masih belum sepenuhnya tuntas sebab saya masih merasakan nyeri saat buang air kecil, yang tiada kunjung membaik. Ini super duper sangat mengganggu keseharian saya, khususnya kualitas tidur saya di mana setiap malam saya bisa terbangun 3-4x hanya untuk bolak-balik bang air kecil (oh btw kasus saya ngga sampai yang ngompol gt yah). 

Kemudian saya pun berinisiatif untuk konsul langsung ke spesialis urologi. Ya, Urolog adalah dokter spesialis yang menangani secara khusus keluhan dan penyakit yang berhubungan dengan saluran kemih dan sekitarnya. Karena saat itu posisi saya sudah kembali ke Jatinangor, saya agak kesulitan mencari rujukan urolog terdekat. Paling harus ke RS di Bandung dan itu pasti kebayang riweuhnya karena harus bawa-bawa Aisyah (haha iya masih sungkan mau nitip-nitip anak), belum lagi kalau dianya rewel sementara saya bisa jadi bolak balik WC umum. Duh... Sayapun memutuskan untuk konsultasi via aplikasi konsultasi kesehatan, Halodoc. 

Sebelumnya, saya pernah menggunakan aplikasi ini saat suatu hari Aisyah sakit diare. Alhamdulillah, di tengah ke-waswas-an ngadepin Aisyah yang demam-diare-lemes-ngga nafsu makan, Halodoc sangat ngebantu karena saya bisa konsul langsung dengan spesialis anak pilihan, dan alhamdulillah dokter yang bersangkutan sangat ramah dan bisa menjelaskan keadaan Aisyah sekaligus ngasih solusi terbaik.

Oke balik lagi ke ISK. Nah, sayapun mencoba konsul ke urolog pilihan yang ada di aplikasi. Saya ceritakan kepada beliau keluhan ISK saya yang tak kunjung sembuh. Sayapun menceritakan kronologis ISK yang saya derita, termasuk berapa kali saya telah berobat ke dokter plus obat-obat apa saja yang pernah diresepkan. Dari cerita saya, dokter kemudian menjelaskan bahwasanya saya menderita apa yang disebut dengan "sistitis berulang".

Cystitis terjadi ketika dinding uretra dan kantong kemih terinfeksi bakteri sehingga menyebabkan area tersebut luka/meradang/bengkak. Disebut "berulang" karena infeksi sulit sembuh dan kerap muncul. Bisa dibilang sistitis adalah bentuk ISK yang telah kronis yang apabila dibiarkan akan menimbulkan kondisi yang lebih berat yaitu sistitis interstisial (yang susah sekali disembuhkan) bahkan sampai komplikasi seperti infeksi ginjal atau kanker saluran/kandung kemih. Dokter saat itu ngga langsung memberikan resep, tapi beliau menyarankan agar saya melakukan 2 langkah medis: Pertama, melakukan USG urologi. Kedua, melakukan prosedur pemeiksaan sensitivitas kultur urin di lab. Hasil dari dua pemeriksaan inipun agar dilampirkan kembali ke beliau di sesi konsultasi lanjutan agar beliau dapat memberikan resep dan pengobatan yang tepat.

Image: www.sehatq.com

Well, sesi konsultasi 30menit pun selesai, dan saya kembali berpikir "hmmm periksa-periksa lagi inimah... mesti ke Bandung nyari RS/lab... dipikirin nanti lagi deh". Yahhh, saya menunda berobat lagi...


Kembali Hematuria

Tiga bulan berselang dari konsul saya ke urolog di aplikasi Android, penyakit saya pun kembali menjadi: nyeri BAK dan pipis darah (gross hematuria). Hmmm, kumat lagi... Saya segera konsul ke urolog via aplikasi lagi, namun saya mencoba merujuk urolog yang lain. Setelah menceritakan keluhan saya, dokter pun memberondong dengan banyak pertanyaan seperti apakah pernah menderita anyang-anyangan sebelumnya, nyeri BAK di awal/selama/akhir berkemih, disertai demam/tidak, pernah BAK disertai pasir/keluar batu, apakah disertai nyeri pinggang (nyerinya tajam/tumpul), riwayat keluarga batu ginjal, dan lain sebagainya heheh... Setelah berhasil menjawab banyak pertanyaan dari sang dokter, resep online pun keluar yeeeey hehe: ciproflocaxin (lagi), asam traneksamat (untuk menghentikan perdarahan), dan meloxicam (untuk meredakan nyeri).


Setelah memperoleh ketiga obat tersebut, saya pun displin meminumnya sesuai saran dokter, sambil mengikuti anjuran beliau untuk memperbanyak minum air putih dsn sementara stop minum kopi *hiks sedihnyaaaa hehehe. Saya udah bosen bangettt kaget+panik+nahan nyeri saat lihat pipis berdarah-darah dan keluar gumpalan-gumpalannya hiks hiks hiks. Udah gitu, bobo ngga bisa nyenyak karena sering terbangun di malam hari karena kebelet BAK. Sangat berharap terapi kali ini menuai kesembuhan yah karena langsung 'ketemu' dengan urolog dan memperoleh resep darinya walaupun via daring. Benar, setelah pengobatan, ISK saya alhamdulillah membaik: tidak nyeri BAK dan tidak berdarah lagi. Lega sekali rasanya... Hingga selang beberapa pekan kemudian di bulan November keluhan kembali saya rasakan.

Saat mulai kerasa itu apakah saya langsung berobat lagi? 

Jawabnya: nggak. Saya diemin aja, saya berusaha sembuh-sembuhin sendiri. Berharap dengan terapi yang saya lakukan di rumah seperti banyak minum dan menjaga kebersihan area kewanitaan akan perlahan menyembuhkan ISK. Memang sih, saat saya lagi eling minum banyak, maka saya akan minum banyak hehe, sekitar -+8 gelas perharinya (dan itu pengennya air esss wae yah hahaha). Tapi saat saya lagi ngga rajin atau lagi nggak di rumah/di luar kota/di tempat sanak family, frekuensi minum jadi berkurang dan otomatis pipis pun kerasa nyeri lagi. Saat area kemih mulai kerasa ngga enak/perih sampai menyulitkan aktivitas, saya minumin Meloxicam untuk sebatas meredakan nyeri seperti yang dokter pernah resepkan (yang tentunya minus antibiotik karena saya concern untuk ngga minum antibiotik ngasal sendiri tanpa sepengetahuan dokter hehe). Dan kondisi 'bertahan' ini berlangsung berbulan-bulan yah... 

(bersambung ke Part 4).

Copyright © 2019 jurnaldita | Theme by RUMAH ES