December 6, 2019

ISK, Sebuah Perjalanan Panjang Meraih Kesembuhan (Part 2)

Empat bulan berlalu setelah pengobatan pertama di Part 1 tanpa ada perubahan yang berarti setelahnya. Paling hanyalah rasa sakit saat berkemih yang agak berkurang, dan itu juga cuma sebentar. Tidak lama kemudian, infeksi kembali lagi bertingkah, di mana nyeri dan panas yang sangat saat BAK mulai sering muncul, dan kini sering disertai warna urin yang keruh dan agak kemerahan, dan mulai keluar gumpalan darah.

Ya, serius, beneran, sampai drama pipis berdarah-darah hehe...

*Astaghfirulloh...

Berselang tidak lama, saya lalu jatuh sakit. Suatu malam saya merasakan badan demam meriang. Dan warna urin pun semakin keruh disertai sejumlah gumpalan darah yang lebih banyaj. Sebutir paracetamol akhirnya saya telan untuk meredakan demam. Sambil membaca-baca artikel ISK di google, pikiran saya pun berkecamuk, gelisah dan takut akan kemungkinan terburuk dari ISK kronis yg saya derita, yakni komplikasi gagal ginjal.

Keesokan harinya saya kembali memeriksakan diri. Kali ini saya ditemani pak suami dan si kecil untuk berobat ke klinik yang berada tidak jauh dari rumah kami. Saat itu badan terasa lemas, tidak nafsu makan, sering kebelet BAK, dan timbul rasa perih di area kemaluan manakala saya berjalan. Nampaknya infeksi sudah semakin parah. Setelah menyelesaikan pendaftaran dan menunggu antrian, tibalah nama saya dipanggil. Saya pun menjelaskan keluhan yang saya alami kepada dokter. Sambil memeriksa saya, dokter pun melakukan semacam pukulan menggunakan kedua tangannya di area pinggang saya. "Sakit, bu?" tanyanya. "Ngga dok". Dokter menjelaskan bahwa apabila ads sakit yang timbul di saat ada pukulan di area pinggang, itu mengindikasikan batu ginjal. Alhamdulillah, saya ngga merasakan nyeri pukul. Guna diagnosa yg lebih pasti, kemudian dokter memberikan saya rujukan untuk tes urin rutin di lab setempat. Melalui tes urin, akan lebih terlihat bagaimana kondisi kesehatan saya terkait keluhan ISK.

Tes urin pun lalu saya jalani. Setelah menunggu sekitar 20 menit, petugas lab pun memanggil nama saya dan memberikan amplop hasil tes. Saya kemudian segera menuju ruang praktek dokter, dan menyerahkan hasil tes yang menyatakan bahwa terdapat protein, leukosit, dan eritrosit di dalam urine saya, yang artinya ada infeksi di dalam saluran kemih.

Hasil tes urin rutin

Dokter pun mengingatkan saya agar banyak minum air putih, serta mengurangi konsumsi kopi dan teh (hiks hiks). Saya pun dihimbau untuk senantiasa menjaga kebersihan area kewanitaan, dan membersihkan area kewanitaan dengan arah yang benar yaitu dari arah depan ke belakang agar mencegah kuman yg berasal dari belakang (dubur) terbawa ke area lubang kencing. Saya diresepi ciproflocaxin lagi untuk dosis 5 hari, serta parasetamol seandainya kembali demam/nyeri. Setelah menebus obat, kami pun pulang. Di rumah, saya masih merasakan demam (yang munculnya menjelang sore hari) hingga hari ketiga. Namun saya tetap berhuznudzon, "karena menuju kesembuhan butuh proses" begitu ucap saya pada diri sendiri. Setelah tuntas antibiotik, perlahan kondisi fisik saya pun mulai pulih alhamdulillah, namun nyeri BAK masih tetap terasa.


Berobat Ketiga: Spesialis Penyakit Dalam

Beberapa minggu setelah kondisi kesehatan saya membaik, saya sekeluarga pun pergi ke rumah orang tua untuk berlibur, oh iya saat itu momennya tengah memasuki pekan-pekan terakhir Bulan Suci Ramadhan. Karena saat itu pak hubby masih sibuk, jadi kami hanya bisa bersama di Pondok Gede cuma beberapa hari, kemudian pak hubby kembali lagi ke Jatinangor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum kembali mudik ke Jakarta merayakan Idul Fitri.

Di rumah ortu saya bisa santai dan refreshing sambil memulihkan kesehatan, karena Aisyah ada yang ngebantuin ngasuh. Saya juga bisa hangout sana hangout sini hehe. Tapi bener deh selama masih menderita ISK, acara-acara hangout akan berkurang keseruannya. Nyeri di kemaluan terkadang suka muncul saat saya berjalan dan tentunya jadi ada sampai beberapa kali agenda nyari toilet umum karena sensasi beser yang sulit ditahan :' . Belum lagi nyeri saat pipis yag harus dirasakan, dan bersiap-siap syok juga saat air seni yang kini kemerahan disertai gumpalan darah.

Mumpung di tempat ortu, saya pun memutuskan kembali berobat untuk kesekian kalinya dengan keluhan yang sama, namun kali ini saya memutuskan untuk mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam. Mungkin ada diagnosis yg lebih lengkap dan terapi pengobatan yang lebih akurat, begitu pertimbangan saya. Saya pun meneguhkannhati untuk berangkat menuju rumah sakit, dan memeriksakan diri.

Alhamdulillah, hari itu rumah sakit ngga terlalu padat mungkin karena orang-orang sudah mulai pergi mudik. Saat saya masuk ruangan periksa, dokter menyambut saya dengan ramah dan meminta saya menjelaskan keluhan yang saya alami. Dengan seksama beliau menyimak penjelasan saya sambil beberapa kali bertanya dan terlihat mencatat sesuatu di mal file. Kemudian beliau memberikan rujukan kepada saya untuk langsung melakukan tes urin lengkap. Segera saya menuju lab dan mengambil tes urin lengkap. Petugas lab pun sempat berkomentar saat menyerahkan hasilnya, "mbak lagi mens? Ini ada darah di urine nya." Saya tersenyum, dan menjawab "ngga mbak, ini emang lagi ISK".

Sayapun kembali menemui dokter, setelah mengamati hasil lab, beliau bilang bahwa selain terdapat darah di urin urine saya positif kuman. Dokter menjelaskan, selain karena ISK, darah di dalam urine bisa juga berasal dari kristal/batu ginjal. Batu tersebut mengalir menuju saluran kencing, dan tersangkut di sana. Permukaan batu/kristal yang kasar dan tajam mampu melukai jaringan disekitarnya sehingga menyebabkan perdarahan, sehingga darah larut bersama urine.

Hasil tes urine lengkap saat
pemeriksaan ketiga

Wah, jadi surprised juga dengernya kalau memang benar suspeknya ada kristal nyangkut. Sembari memberikan resep, dokter juga memberi rujukan untuk mengambil tes USG abdomen untuk melihat apakah ditemukan endapan batu/kristal di saluran kemih. Tapi, karena hari itu bagian radiologi sedang tutup, yowis USG nya entar-entar aja, yang penting dapat resep dulu. Saat itu resepnya agak lain, dokter ngga ngasih cipro lagi, tapi obat golongan pipemidic acid (mereknya Urinter), kemudian tablet natrium bikarbonat (soda) untuk meluruhkan kristal (jikalau memang benar ada kristal), dan semacam pereda sakit/kolik.

Pipemidic acid  dan natrium bikarbonat saya minum hingga habis. Dan lagi, nyeri ISK masih tetap terasa. Saya kembali menghela nafas, ternyata memang penuh drama ya perjalanan demi meraih kesembuhan ISK hehe, inipun masih belum sembuh sepenuhnya. Tapi saya nggak akan menyerah, karena entah bagaimana hati kecil membisikkan bahwa saya akan bisa melewati ini semua dan sembuh, insya Allah. Aamiin... (bersambung ke Part 3)

No comments:

Post a Comment

Copyright © 2019 jurnaldita | Theme by RUMAH ES