November 20, 2019

ISK, Sebuah Perjalanan Panjang Meraih Kesembuhan (Part 1)

Assalamualaikum, apa kabar Mommies semua, semoga selalu sehat dan berbahagia yaaa. Well, spesial di posting kali ini saya akan berbagi kisah tentang pengalaman pribadi saya yaitu ketika saya didiagnosis terkena ISK (Infeksi Saluran Kencing). Mungkin para pembaca ada yang pernah terkena ISK, sehingga bernostalgia dan ikutan sepaham dengan apa yang akan saya ceritakan. Atau mungkin ada juga Mommies yang saat ini tengah menderita ISK, semoga sharing pengalaman dan tips dari saya dapat memberikan masukan bagi Mommies untuk berikhtiar demi kesembuhan. Sambil saya juga mendoakan kesembuhan untuk Mommies semua... Dan bagi yang belum pernah terkena ISK, jangaaan sampai kena yaaa karena hiks hiks banget rasanya :'' ....

Saya adalah mantan penderita ISK kronis, di mana penyakit ini bersarang di tubuh saya sekitar satu tahun lamanya. Yup, bener satu tahun lamanya! Tanpa ada jeda kesembuhan, so selama sakit itu saya selalu merasakan nyeri tiap Buang Air Kecil (BAK) yang teramat sangat. Bayangkan berapa kali saya harus menahan nyeri dalam setiap harinya. Belum lagi pada saat-saat tertentu seperti tengah malam dan saat jalan-jalan, ISK bikin saya harus bolak-balik ke WC karena hasrat mau pipis yang sulit tertahan :'

Sebenarnya apa sih ISK itu? Penyakit ISK adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama Escherichia coli. Bakteri ini sebenernya tinggal di usus besar dan di sekitaran dubur. Nah, bakteri dapat dengan mudah singgah ke saluran kencing saat kita nggak menjaga kebersihan atau saat setelah BAK/berhubungan seksual kita menyeka kemaluan dengan arah yang salah (dari belakang/dubur ke depan/lubang kencing). Bakteri yang sudah nemplok di permukaan luar kemudian berkembang biak dan bergerak ke atas masuk ke saluran kencing dan kemudian mengakibatkan infeksi di jaringan sekitarnya. Dan bila dibiarkan, infeksi bisa semakin parah menjalar ke organ ginjal

Serem... Emang. Oh iya, 50-80% dari total populasi wanita secara umum pernah mengalami ISK setidaknya satu kali semasa hidupnya.  Sekitar 20-30% dari wanita yang sudah pernah terkena ISK akan mengalami ISK berulang (dan saya masuk kategori yg ini).

Escherichia coli di bawah mikroskop
Image: quora.com dan sciencesource.com

Saya lanjut lagi yaaa.

Berawal dari kepulangan saya ke Jatinangor setelah saya lahiran Aisyah di Bekasi. Saat itu saya menjalani persalinan debay Aisyah dan pemulihan di tempat ortu, itung-itung nunggu jahitan perineum sembuh sambil belajar ngASI & ngasuh anak pertama. Sekitar 4 bulanan saya stay di sana, lamaaa ya wkwkw. Kemudian saya kembali ke Jatinangor bawa debay sekitar awal September.

Oh iya, flashback mundur dulu lagi, saya juga pernah menderita anyang-anyangan/ISK saat saya masih kost di Bandung, mungkin sekitar setahunan sebelum saya menikah. Saat itu kayanya akibat saya kurang minum, jadi weeeh suatu hari kok kerasa ngilu saat pipis. Saya diemin aja dan saya nggak terlalu anggep serius. Eh tapi lama kelamaan kok bukannya anyang-anyangan hilang, tapi malah makin ngilu aja. Karena saat itu saya lagi banyak kerjaan, dan pengen segera tuntas anyang-anyangan nya, so saya langsung ke dokter dan dikasih beberapa resep obat (antibiotik dan pereda nyeri), dan alhamdulillah ISK pun sembuh setelah sekitar sepekan obat tuntas diminum.

Nah sekarang dimajuin lagi timingnya, kembali ke momen saya balik ke Jatinangor dengan status udah sebagai istri n' emak-emak hehe. Suatu ketika, saya kembali merasakan munculnya anyang-anyangan (kalau bahasa Sunda nya 'jeungjeuriheun' hehehe).

"Wah, kok rada ngilu ya?" begitu batin saya ketika selesai BAK. Sama seperti sebelumnya, saya ngga terlalu anggep serius nyeri BAK saat itu, "hmmm paling nanti abis minum nyerinya bakal hilang sendiri", begitu pikir saya. Dari kecuekan inilah anyang-anyangan saya berubah menjadi ISK yang serius dan menahun.

Akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan kondisi penyakit ini. Saat itu pas saya sedang berlibur ke tempat ortu di Pondok Gede. Tempat berobat saya ialah di klinik dokter langganan ortu yang letaknya di depan komplek. Aisyah pun saya titipkan ke eyangnya, dan waktu itu sekitar pukul 8 petang saya memantapkan diri untuk periksa ke sana.

Daftar, ngantri, dan tadaaa akhirnya nama saya dipanggil. Setelah periksa-periksi, kemudian tanya jawab keluhan, dokter mengatakan bahwa saya terindikasi ISK. Beliau menyebutkan saya suspek uretritis (infeksi di saluran kemih bawah/uretra), yang ditandai nyeri khas yg munculnya setelah BAK, bukan sebelum/di saat BAK.

Uretritis adalah radang pada saluran kemih bawah/uretra
Image: www.sehatq.com

Beliau menjelaskan bahwa anatomi letak area kewanitaan yang sedemikian rupa menyebabkannya rentan akan tertular kuman/bakteri yang berasal dari belakang/dubur. Dokter pun meresepkan antibiotik (ciproflocaxin), obat pereda nyeri, dan obat pelancar BAK. Namun, Allah swt. berkehendak lain. Setelah antibiotik habis, keluhan nyeri BAK masih saya rasakan. Obat-obatan yang telah saya konsumsi sebenarnya menunjukkan hasil, namun nggak benar2 tuntas menyelesaikan sakit yang saya derita. Apakah saya kembali periksa lagi ke dokter? Nggak. Dan saya kembali membiarkan dengan penuh berharap bahwa ISK akan perlahan sembuh dengan sendirinya setelah tuntas antibiotik dari dokter (bersambung ke Part 2).

No comments:

Post a Comment

Copyright © 2019 jurnaldita | Theme by RUMAH ES