December 22, 2018

Buang Kapalan Kaki Pakai Muby Baby Foot

Semenjak nikah, saya jadi punya telapak kaki yang bisa dibilang tebel-pecah2-parah. Maklum, sehari2 kaki selalu kena air khususnya saat berkecimpung dengan 'pekerjaan air': nyuci2, jemur2, ngepel, bersihin kamar mandi, dsb. Karena kaki kapalan, saya jadi ngerasa ga nyaman. Udah keliatan jelek, ga mulus, n keliatan horor bgt karena kulit arinya mulai retak2. Dan saya jg suka usil ngeletekin gt, n sering kali ngeletekinnya terlalu 'dalem' jadinya berakhir dengan perih.

December 15, 2018

Memperkenalkan Bahasa Inggris Kepada Si Kecil Sejak Dini



Hallo semua. Tentunya sebagai orangtua kita menginginkan buah hati kita memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik saat besar nanti. Stimulasi verbal/linguistik pun kemudian diberikan semenjak usia dini. Orang tua memperkenalkan bahasa sebagai alat berkomunikasi secara verbal kepada anak dan itu sah-sah saja. Itulah kenapa ada istilah "bahasa ibu", yaitu bahasa pengantar utama yang dipergunakan orang tua kepada anak semenjak kecil. Yang jadi pertanyaan, bagaimana kalau kita ingin menstimulasi anak dengan bahasa lain (seperti Bahasa Inggris) selain bahasa ibu? Apakah bisa? Dan kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan anak kepada bahasa asing?

Jawabannya, tentu saja bisa. Kenapa nggak?! Rangsangan yang masuk ke otak bayi, baik bahasa ibu maupun bahasa asing, tetap akan direspons bayi sebagai stimulus yang akan mendorong kemampuan verbalnya.

Lalu, bagaimana prinsip dasar memperkenalkan bahasa asing kepada dede bayi yang masih kecil? Well, prinsip dasarnya cukup sederhana: ortu harus mau celetak-celetuk dalam Bahasa Inggris, dan nyeletuklah dengan tujuan untuk sekedar memaparkan, bukan untuk menuntut pengertian apalagi memahami percakapan.

Bayi memang mustahil ngerti, tp interaksi orangtua itu akan membuat bonding time jadi semakin sering, kan :) .... Hingga di kemudian hari dia pasti akan terbiasa dengan cas cis cus ortunya dan akan terbawa untuk ikutan cas cis cus juga dengan sendirinya. So, kemauan dan konsistensi memang kunci...

Anak2 kecil jaman now mahir berbahasa Inggris bukan karena tiba2 spontan mereka gt aja bisa, melainkan karena mereka sudah biasa (karena percakapan di rumah, tontonan anak berbahasa asing dari TV kabel, kurikulum dan pergaulan di sekolah, dsb). Di bawah ini saya deskripsikan lebih lanjut pada bagaimana caranya sih memperkenalkan dan membiasakan Bahasa Inggris kepada anak, dan contoh ilustrasinya seperti apa.

1. Pada saat bayi berutinitas.
Rutinitas bayi seperti saat bangun tidur, mandi, makan, bermain, dan menyusu dapat menjadi momennya ortu memperkenalkan Bahasa Inggris. Misalnya, saat debay sedang makan. Moms bisa selingin dengan cas cis cus. "This is a spoon", "hmmm, delicious! Habisin yaa," dsb. sambil nyuapin. Atau ketika mau mandiin debay, sambil menggendong debay masuk kamar mandi mamanya bisa nyeletuk, "Yuk, let's take a bath!" .

2. Memberi pujian dan mengekspresikan perasaan.
Prinsip memperkenalkan Bahasa Inggris ke debay memang mudah banget sebenarnya, tinggal ortunya mau 'berisik' apa nggak hehehe. Orang tua bisa mengungkapkan ekspresi-ekspresi positif (seperti pujian, terima kasih, kekaguman) dengan Bahasa Inggris. Contohnya, saat debay bisa makan dengan tenang dan mau ngehabisin makanannya, ortu jangan lupa kasih pujian seperti "Good girl!", "That's awesome!" dsb. Masuk deh itu stimulasi ke otaknya berupa apresiasi ortu yang positif sekaligus Bahasa Inggris. Nah di bawah ini ada seabreg ungkapan-ungkapan Bahasa Inggris yang bisa kita pakai untuk memberikan pujian kepada si buah hati:

foto: www.sydney.k12.mt.us


3. Ketika memegang/memperkenalkan bayi kepada objek baru.
Kecerdasan verbal anak mulai terasah manakala dia mendapatkan supply vocabulary/kata-kata baru. Saat ortu memberi mainan baru, ucapkanlah nama mainan itu dalam Bahasa Indonesia sekaliagus Bahasa Inggris. "Adek, mama punya mainan baru buat adek. Lihat ini... This is a ball. Ball. Bola.". Atau bisa juga saat melihat objek yang menarik. "Nak, lihat, ada kucing tuh. That's a cat. Cat. Kucing, meeeong.". Sering-seringlah ortu ngajak debaynya jalan-jalan ke luar rumah supaya bisa nunjuk-nunjuk ke objek baru di luar ruangan (seperti pohon, kendaraan, bangunan, dsb) sambil memaparkannya dengan Bahasa Inggris.

4. Saat adek bayi & mommy lagi bersenang-senang.
Banyak aktivitas mengasyikkan yang bisa dilakukan orang tua bersama debay, seperti saat bermain, bernyanyi, bercerita, dsb. Nah, di saat-saat dia lagi happy, sisipkan deh Bahasa Inggris ke dalamnya. Contohnya saat debay selesai mandi, sambil ngedandanin & memakaikan baju, mommy bisa sambil muterin lagu-lagu anak berbahasa Inggris (seperti Twinkle-Twinkle Little Star, Itsy Bitsy Spider, ABC, dsb) ddari Youtube dan mengajak si dedek bernyanyi bersama dalam suasana yg penuh keceriaan.

So, gampang khan? Jadi, jangan ragu lagi ya moms untuk memperkenalkan Bahasa Inggris kepada si buah hati.

December 12, 2018

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama (Part 2)

Ok, saya lanjutin lagi cerita dari Part 1 ya! Hari berganti hari, makin mendekati HPL saja. Gini2 saya juga bisa nervous & cemas wkwkw, tapi kekhawatiran itu segera beralih menjadi harapan dan doa karena sebentar lagi sang buah hati akan hadir... ciyeee. Hari itu Sabtu, tanggal 31 Maret. Hari itu paksu sedang ngunjungin bininya di Jakarta (padahal dia lagi pusing tujuh keliling ngurusin kerjaan). Jd sambil ke Jakarta untuk siaga nengokin saya, dia basically juga bawa laptop nyelesein laporan2 kerjaannya yg numpuk wkwkwk. Saya jadi mikir ih meuni dia bela2in banget nengokin saya, pdhl kalau mau skip ke Pondok Gede ngga apa-apa karena dia punya deadline yg penting banget saat itu hehehe. Ya sutralah, mangga ajah, mungkin dia emang pengen standby berhubung HPL nya juga sebentar lagi, gitu pikir saya.

Sabtu pagi itu saya dan nyokap berencana mau masak spesial karena di rumah juga lagi pada ngumpul adik saya yg pertama & istrinya, so pagi itu saya & emak jalan2 cantik ke depan komplek untuk belanja sayur mayur dan aneka cemilan. Lumayan juga jalan ke depan komplek bolak balik sampai rumah bisa dapet 15-20menit.

Belanja kelarrr, setibanya di rumah sekitar pukul 9 kami langsung ke dapur untuk mempersiapkan bahan-bahan yang sudah dibeli tadi dan segera memasaknya. Dan hari itu saya masak menu spesial: cumi item tumis tahu hehehe.

Masak pun beres, nggak lama setelah itu sekira pukul 11 siang, saya merasakan mules2 pertama. "Wih mules apaan niii..." saya membatin ketika ngerasain semacam sekelebatan nyeri ringan di sekitar perut bagian bawah. Rasa mulesnya sama seperti nyeri datang bulan, tapi mulesnya ini nggak berlangsung lama alias datang dan pergi sesuka hati. Mules berikutnya kerasa sekitar satu jam setelahnya. Saya pun masih santai2 aza, mungkin semacam Braxton Hicks hehee.

Nah makin sore makin intens deh tuh mules2nya di mana dia muncul setiap setengah jam sekali. Di situ saya langsung curiga, 'is this it?'. Saya langsung ngasitau paksu yang tengah sibuk ngetik2 kerjaannya di leptop bahwa mulesnya mulai semakin rajin muncul. Siang pun berganti malam, saya mulai meringis2 nahan mules yang rasa ngilu & nyerinya sudah kian bertambah w.o.w saja. Sekitar jam 21.30 tas pakaian dan perlengkapan persalinan masuk ke bagasi mobil, kami pun memutuskan untuk capcusss ke RS Masmitra...

Sampai TKP, saya segera didudukkan di kursi roda dan kami menuju ruang UGD. Administrasi beres, suster pun mengarahkan saya ke ruang persalinan. Sementara saya kriyepan aja nahan mules yang datang dan pergi silih berganti. Di ruang persalinan, suster segera ngecek kondisi vital saya dan detak jantung si debay. Dan saat itu rahim udah bukaan 3. Mbak suster pun meminta agar kami menunggu di sana hingga bukaan terus berlanjut dan dia akan terus memantau perkembangannya setiap satu jam sekali. Dan suster ngabarin bahwa hari itu dr. Wawan sedang keluar kota, dan RS akan menghubungi dokter lain yang available sesuai rekomendasi dr. Wawan.

Jam di ruang persalinan saat itu menunjukkan lewat pukul 12 malam, dan kontraksi pun makin menjadi-jadi. Paksu dengan setia dan penuh kesabaran mendampingi dan menggenggam tangan saya, sementara bininya berjuang menahan mulesnya kontraksi yang rasanya luar biasa subhanallah... Sesekali paksu menyodorkan teh hangat manis untuk mengembalikan tenaga saya yang hilang. Ngga lama kemudian, suster kembali ngecek perkembangan saya. Bukaan 6. Alhamdulillah, ada kemajuan signifikan dan nggak perlu induksi. Lalu air ketuban saya mulai pecah dan kerasa banget itu ngalirnya kayak balon pecah, dan sekitar pukul 02.00 status saya sudah mencapai bukaan 9 menuju 10.

Beberapa suster bergegas memasuki ruangan dan mempersiapkan perlengkapan medis persalinan. Dokternya pun datang, horeee ^^. Eng ing eeeng he is dr. Putra Ismaya SpOG (yg suka nonton TVOne mungkin tau ya hahaha) yang akan membantu persalinan saya. Setelah menyapa dan memperkenalkan diri dengan ramah, dr. Putra segera menjelaskan bahwa ini udah bukaan full. Saya dipersilahkan mengikuti instruksinya untuk ngeden/mengejan sekuat2nya. Tapi nggak asal ngeden, harus ngikutin aba-aba dokter dan ada tekniknya, yaitu ngeden lah sekuat2nya sepuas2nya di saat gelombang kontraksi/mules mulai kerasa datang, dengan mata tetap terbuka dan tatapan mata terus mengarah ke perut.

Bismillah, this is it! So the struggle begins... Kontraksi datang lagi, saya langsung mencengkeram tangan paksu seerat-eratnya dan mengejan sekuat-kuatnya. Kontraksi lagi, tarik nafas dalem, ngeden lagi, istirahat lagi. Kontraksi lagi, tarik nafas dalam-dalam, ngeden lagi, istirahat lagi. Entah di kontraksi kedua apa ketiga gitu, dokter bikin episiotomi, tapi nggak kerasa sakit ya karena sakitnya udah ketutup duluan sama dahsyatnya mules kontraksi hehee.

Masuk kontraksi keempat, saya bisa merasakan kepala debaynya udah keluar. Dan menjelang kontraksi kelima, saya ambil nafas sedalam2nya lalu, bismillah... Saya pun mendorong sekuat2nya dan alhamdulillah baby ku lahiiiiir huhuhuuu ;'. Paksu pun langsung mewek (ini mewekannya yang kedua, pertama dia mewek waktu sungkem ke ortu setelah akad nikah wkwkwkw).

Hello Aisyah my little one.


Setelah baby nya lahir, entah gimana itu beneran ya mules2 yang tadi langsung sirna seketika itu juga. Suster juga memberi kesempatan kepada saya untuk meng-IMD. Sebelum IMD, mbak suster membantu menstimulasi agar cairan kolostrum dapat keluar. Kemudian, suster meletakkan debay di pelukan saya. Debay langsung nemplok trus mulai nyenyen perdana. Oiya pas lahir BB nya Aisyah 2,9kg dan panjangnya 49cm, launching 1 April 2018 jam 02.17 dini hari. Alhamdulillahirobbil 'alamiin puji dan syukur nggak berhenti kami panjatkan kepada-Mu atas karunia kelahiran anak pertama kami, Aisyah... Sekarang jadi paham bener bener dahhh kenapa Rasulullah saw mengatakan "Ibumu, ibumu, ibumu. Ayahmu...". Itulah mengapa surga ada di telapak kaki ibu hehe wallahualam bishshawab... Well, itulah cerita pengalaman pertama saya waktu persalinan Aisyah, and the rest is history. Thanks a lot for reading yaa...

December 11, 2018

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama (Part 1)

Good afternoon, all. Akhirnya anak gw tidur, dan gw bisa ngetik postingan ini yeayyy... Sebelumnya, pengen bikin postingan ini saat lagi baru2nya pasca persalinan. Tapi setelah lahiran riweuhnya kan minta ampun hehe, so mau ngetik ini kepending terus. So, here's my labor story about giving birth to my baby girl. Oh iya ini saya tulis jadi 2 part ya. Part pertama tentang eksodusnya saya dari Jatinangor ke Jakarta, dan part 2 nya tentang momen2 menjelang persalinan.

Selama kehamilan bulan 1 s/d bulan 7, saya masih eksis di Jatinangor dengan segala kegiatan mengajar, shopping, dan nongkrong2 cantik wkwkkw. Kontrol rutin tiap bulan ke dr. Ali Rustaman, SpOG di RB Harapan Keluarga, Cipacing pun pastinya nggak pernah kelewat. Ketika periksa kandungan terakhir di bulan Februari saat itu, saya bilang ke dokter kalo saya berencana mau persalinan di Jakarta. Dokter pun oke aja karena berdasarkan hasil pemeriksaan kandungan saya alhamdulillah sehat hehe. Dokter mengingatkan bahwa due date kehamilan saya sekitar pertengahan April 2018, yang artinya itu nggak akan lama lagi...

Hello baby, hello belly!


Awal Maret saya pun ngungsi ke Jakarta, ke rumah ortu di Pondok Gede. Saya dan suami memutuskan untuk persalinan di sini karena pertimbangan operasional: keluarga/ortu yang selalu siap membantu 25/7. Ortu welcome2 aja dan seneng banget malah, iya donk soale bakal bisa sering nimang2 cucu dan rumahnya jadi rame hehe. Sementara saya stay di Pondok Gede, pak suami tetap standby di Jatinangor karena urusan pekerjaan, dan desye rela bolak balik Jatinangor - Pondok Gede tiap wiken demi nengokin bini & dede utun hehehe.

Di Jakarta, dr. Suharwan, SpOG di RS Masmitra, Jatimakmur adalah dokter kandungan yang saya rujuk kemudian. Sama seperti kalo mau periksa ke dr. Ali, ngantrinya juara deh untuk ketemu dr. Wawan ini. Karena kehamilan udah masuk usia 8 bulan, maka pemeriksaan kandungan pun jadi makin intens, yaitu menjadi seminggu sekali. Pertamax periksa, beliau bilang posisi bayi nya masih belum turun. Beliau menyarankan supaya saya banyakin jalan kaki, sekitar 30' setiap harinya. Dia menjelaskan, klo debaynya masi blm turun panggul sampai HPL, kemungkinan persalinan akan melalui metode vakum agar debaynya turun, atau bahkan sc. Saya sampaikan ke dokter bahwasanya saya berkeinginan agar bisa lahiran secara normal/per vaginam. Dan dokter pun mengerti itu sembari menyemangati bahwasanya masih ada beberapa pekan agar debaynya turun/engaged ke panggul.

"Dok, kalo pake cara nungging2 sujud lama gitu, gimana? Atau ngepel nungging gt? Bisa nurunin kepala bayinya nggak?" tanya saya dengan penuh rasa penasaran.

"Oh itu beda. Pokoknya banyakin jalan kaki aja supaya kepala bayinya turun ke panggul. Nggak perlu ikutan senam hamil ya, cukup jalan kaki aja," jawabnya. Ok ok, siap komandan, saya turutin instruksinya hehe. Jadilah semenjak itu tiap pagi saya jalan kaki keliling komplek sekitar setengah jam. Demi si dede pokokna hehehe. Dan jalan kaki 30' pas lagi tua2nya hamil itu zezuatu bgt, udah mah berat, gerah, dan selangkangan bawaanya panas & pegel... Sambil jalan sambil saya ajak ngobrol debaynya supaya segera turun, biar bisa segera ketemu ayah bunda nya :) .

Oh iya, kalau dr. Ali memperkirakan HPL saya sekitaran tanggal 20 April, tapi dr. Wawan prediksinya malah sekitaran tanggal 5 April. Agak kaget juga prediksi HPL dr. Wawan yg majunya banyak kitu. Ya sutralah, mau nggak mau untuk siap persalinan, mulai awal April saya harus siaga satu *syemangaaad! Sepekan kemudian saya kontrol kandungan lagi, dan alhamdulillah di monitor USG sambil ditunjukkin posisinya sama pak dokter, keliatan kepalanya si dedek udah masuk panggul *terharu. Dokter juga bilang ukuran debay nya ok, nggak terlalu besar n ngga underweight, masih dalam range normal.

Seneng bangeeet saya ngedengarnya. Karena saya khawatir juga ukuran debaynya bakalan kegedean, secara hamil tua bawaannya ngunyaaah mulu wkwkkw. Yup, debay termasuk yg nurut pisan setiap dibilangin mamanya hehehe... Saat sungsang, dia mau muter. Dipesenin supaya turun, dia nurut. Dipesenin supaya ngga oversize, eh nurut juga hehehe.

Dr. Wawan pun ngasih 'tausiyah' bahwa emang salah satu kendala utama ibuibu usia 30thn keatas dengan status kehamilan pertama (primigravida) ialah pada fleksibilitas tulang panggul yang sudah berkurang. Ketika persalinan, sendi panggul harus fleksibel untuk memberi ruang dan mendorong bayi keluar jalan lahir. Hal itu bisa dikondisikan bumil dengan rutin berolahraga menjelang HPL, seperti senam/yoga hamil dan jalan santai.(Bersambung ke Part 2)

December 5, 2018

3 Teh Kemasan Terfavorit

Hai hai. Saya termasuk pecinta minuman teh. Saya sangat suka teh yang disajikan dalam bentuk dingin & manis / es teh manis. Es teh manis menjadi pemuas dahaga yang sempurna saat saya kehausan dan kepanasan *ceilahhh

Copyright © 2019 jurnaldita | Theme by RUMAH ES