July 31, 2020

ISK, Sebuah Perjalanan Panjang Meraih Kesembuhan (Part 3)

Assalamualaikum semuanya... Baiklah saya lanjutkan lagi yah kisah perjuanganku untuk sembuh total dari ISK. Di Part 2 saya telah memeriksakan diri ke spesialis penyakit dalam pada bulan Juni 2019. Resep obat telah ditebus dan obat telah saya minum sesuai anjuran. Namun ISK saya masih belum sepenuhnya tuntas sebab saya masih merasakan nyeri saat buang air kecil, yang tiada kunjung membaik. Ini super duper sangat mengganggu keseharian saya, khususnya kualitas tidur saya di mana setiap malam saya bisa terbangun 3-4x hanya untuk bolak-balik bang air kecil (oh btw kasus saya ngga sampai yang ngompol gt yah). 

Kemudian saya pun berinisiatif untuk konsul langsung ke spesialis urologi. Ya, Urolog adalah dokter spesialis yang menangani secara khusus keluhan dan penyakit yang berhubungan dengan saluran kemih dan sekitarnya. Karena saat itu posisi saya sudah kembali ke Jatinangor, saya agak kesulitan mencari rujukan urolog terdekat. Paling harus ke RS di Bandung dan itu pasti kebayang riweuhnya karena harus bawa-bawa Aisyah (haha iya masih sungkan mau nitip-nitip anak), belum lagi kalau dianya rewel sementara saya bisa jadi bolak balik WC umum. Duh... Sayapun memutuskan untuk konsultasi via aplikasi konsultasi kesehatan, Halodoc. 

Sebelumnya, saya pernah menggunakan aplikasi ini saat suatu hari Aisyah sakit diare. Alhamdulillah, di tengah ke-waswas-an ngadepin Aisyah yang demam-diare-lemes-ngga nafsu makan, Halodoc sangat ngebantu karena saya bisa konsul langsung dengan spesialis anak pilihan, dan alhamdulillah dokter yang bersangkutan sangat ramah dan bisa menjelaskan keadaan Aisyah sekaligus ngasih solusi terbaik.

Oke balik lagi ke ISK. Nah, sayapun mencoba konsul ke urolog pilihan yang ada di aplikasi. Saya ceritakan kepada beliau keluhan ISK saya yang tak kunjung sembuh. Sayapun menceritakan kronologis ISK yang saya derita, termasuk berapa kali saya telah berobat ke dokter plus obat-obat apa saja yang pernah diresepkan. Dari cerita saya, dokter kemudian menjelaskan bahwasanya saya menderita apa yang disebut dengan "sistitis berulang".

Cystitis terjadi ketika dinding uretra dan kantong kemih terinfeksi bakteri sehingga menyebabkan area tersebut luka/meradang/bengkak. Disebut "berulang" karena infeksi sulit sembuh dan kerap muncul. Bisa dibilang sistitis adalah bentuk ISK yang telah kronis yang apabila dibiarkan akan menimbulkan kondisi yang lebih berat yaitu sistitis interstisial (yang susah sekali disembuhkan) bahkan sampai komplikasi seperti infeksi ginjal atau kanker saluran/kandung kemih. Dokter saat itu ngga langsung memberikan resep, tapi beliau menyarankan agar saya melakukan 2 langkah medis: Pertama, melakukan USG urologi. Kedua, melakukan prosedur pemeiksaan sensitivitas kultur urin di lab. Hasil dari dua pemeriksaan inipun agar dilampirkan kembali ke beliau di sesi konsultasi lanjutan agar beliau dapat memberikan resep dan pengobatan yang tepat.

Image: www.sehatq.com

Well, sesi konsultasi 30menit pun selesai, dan saya kembali berpikir "hmmm periksa-periksa lagi inimah... mesti ke Bandung nyari RS/lab... dipikirin nanti lagi deh". Yahhh, saya menunda berobat lagi...


Kembali Hematuria

Tiga bulan berselang dari konsul saya ke urolog di aplikasi Android, penyakit saya pun kembali menjadi: nyeri BAK dan pipis darah (gross hematuria). Hmmm, kumat lagi... Saya segera konsul ke urolog via aplikasi lagi, namun saya mencoba merujuk urolog yang lain. Setelah menceritakan keluhan saya, dokter pun memberondong dengan banyak pertanyaan seperti apakah pernah menderita anyang-anyangan sebelumnya, nyeri BAK di awal/selama/akhir berkemih, disertai demam/tidak, pernah BAK disertai pasir/keluar batu, apakah disertai nyeri pinggang (nyerinya tajam/tumpul), riwayat keluarga batu ginjal, dan lain sebagainya heheh... Setelah berhasil menjawab banyak pertanyaan dari sang dokter, resep online pun keluar yeeeey hehe: ciproflocaxin (lagi), asam traneksamat (untuk menghentikan perdarahan), dan meloxicam (untuk meredakan nyeri).


Setelah memperoleh ketiga obat tersebut, saya pun displin meminumnya sesuai saran dokter, sambil mengikuti anjuran beliau untuk memperbanyak minum air putih dsn sementara stop minum kopi *hiks sedihnyaaaa hehehe. Saya udah bosen bangettt kaget+panik+nahan nyeri saat lihat pipis berdarah-darah dan keluar gumpalan-gumpalannya hiks hiks hiks. Udah gitu, bobo ngga bisa nyenyak karena sering terbangun di malam hari karena kebelet BAK. Sangat berharap terapi kali ini menuai kesembuhan yah karena langsung 'ketemu' dengan urolog dan memperoleh resep darinya walaupun via daring. Benar, setelah pengobatan, ISK saya alhamdulillah membaik: tidak nyeri BAK dan tidak berdarah lagi. Lega sekali rasanya... Hingga selang beberapa pekan kemudian di bulan November keluhan kembali saya rasakan.

Saat mulai kerasa itu apakah saya langsung berobat lagi? 

Jawabnya: nggak. Saya diemin aja, saya berusaha sembuh-sembuhin sendiri. Berharap dengan terapi yang saya lakukan di rumah seperti banyak minum dan menjaga kebersihan area kewanitaan akan perlahan menyembuhkan ISK. Memang sih, saat saya lagi eling minum banyak, maka saya akan minum banyak hehe, sekitar -+8 gelas perharinya (dan itu pengennya air esss wae yah hahaha). Tapi saat saya lagi ngga rajin atau lagi nggak di rumah/di luar kota/di tempat sanak family, frekuensi minum jadi berkurang dan otomatis pipis pun kerasa nyeri lagi. Saat area kemih mulai kerasa ngga enak/perih sampai menyulitkan aktivitas, saya minumin Meloxicam untuk sebatas meredakan nyeri seperti yang dokter pernah resepkan (yang tentunya minus antibiotik karena saya concern untuk ngga minum antibiotik ngasal sendiri tanpa sepengetahuan dokter hehe). Dan kondisi 'bertahan' ini berlangsung berbulan-bulan yah... 

(bersambung ke Part 4).

December 24, 2019

Aisyah Rewel Sebelum Tidur, Ternyata Ini Penyebabnya

"Krik... Krik... Krik..." begitu suara jangkrik berbunyi. Tapi berbarengan dengan diketiknya postingan ini di keheningan dini hari pukul 2:40, saya nggak ditemenin suara jangkrik. Melainkan suara 'tik tok tik tok' jam dinding, suara mesin AC yg menggemuruh lembut, dan suara hembusan nafasnya Aisyah yg sudah tidur nyenyak. Yup, dia lagi bobo di samping saya.

? lah ayahnya bobo di mana?
+ ya di rumah, tp beda rumah wkwkw soale ini saya+Aisyah lg di tempat eyangnya... si ayah bobo di rumah Jatinangor wkwkk

Sudah sekitar 2 jam-an Aisyah tertidur pulas setelah selesai dengan dramanya malam ini. Tadi memang ada kehebohan sebelum si bocil tidur.

Aisyah adalah tipe debay yang tetep aktif heboh dulu gitu sebelum dia tidur. Selesai main di ruang tengah, saya mulai ajak Aisyah masuk kamar untuk siap-siap tidur...Seperti biasa saya masih memberinya kesempatan untuk menghabiskan energinya yg tersisa untuk muter-muter ruangan kamar, bongkarin barang-barang di dalam kardus bekas, buka-buka laci meja rias, termasuk manjat-manjatin badan saya sambil dinyanyiin & digelitikin.

Ok, waktu bermain habis!

Seperti biasa sebelum tidur, saya pun mengambil sehelai diaper dan segera mengganti diaper yg dipakainya yang ternyata sudah membengkak. Saya pun membaringkan Aisyah, kemudian mulai mencopot kancing-kancing bawah jumper nya, mengganti diaper kotornya dan dengan yang bersih. Baru hari ini, semenjak sore tadi hingga malam tadi Aisyah mengenakan jumper lamanya yang masih tersimpan di lemari pakaian kamar eyang. Warnanya hijau muda, dengan ornamen hati di tengahnya. Masih cerah dan masih muat dipakai, belum melar di sana sini. Padahal itu adalah jumper saat dirinya masi umur 12 bulan (sekarang dia 20bln btw).

Lalu Aisyah mulai menenen, dengan posisi ternyamannya yaitu tiduran nyamping miring ke kanan. Namun tidak begitu lama, dia merengek. Saya pikir hanya rengekan biasa, karena setiap mau bobo Aisyah selalu ada merengeknya dulu. Saya coba memeluk dan menepuk-nepuk bokongnya, namun rengekannya ngga berhenti. Yang ada Aisyah kemudian menarik tangan kanan saya dan mengarahkannya ke popoknya/selangkangannya.

Wah, kode keras!

Aisyah pun terduduk, masih rewel sambil mencoba menarik-narik popoknya yang terpasang. Saya kemudian melepas popok itu. Popoknya pun masih bersih, dan ngga ada kotoran nyangkut/ngeganjel. Saat ingin dipakaikan popok lagi, Aisyah seolah menghindar. Baiklah, mungkin dia lg pengen semriwing kali yaaa...

Saya pun membiarkannya tanpa popok/celana untuk sementara, sambil berdoa agar dia nggak pipis saat itu. Kemudian muncul inisiatif untuk memperhatikan area selangkangan, apakah ada yang salah di sana, kok Aisyah langsung jadi anteng saat popoknya dilepas.

Dan benar, ternyata oh ternyata Aisyah terkena diaper rash. Ada beberapa bagian di kulit Aisyah yang menunjukkan kemerahan, tapi ngga sampai meradang... Lega akhirnya kebingunganku terjawab sudah wkwkw... Tp jd curious, "kok bisa?". Saya ngamatin si bocah, mencoba mengingat seharian ini apa aktivitasnya, dan memperhatikan jumpernya. Saya pun mengernyitkan dahi, mulai berpikir serius... Dorrr, akhirnya ketauan deh, ini kayaknya ada hubungannya sama pakai si jumper ijo ituuu! Duh nyalahin pakaian, padahal mah kelalaian hambaaaa Ya Allah :'. Jadi guilty gini Mak karena udah makein si kecil jumper lamanya. Sebenarnya masih muat di badan Aisyah, dan ngepas, tp justru ngepasnya itu yang kemudian memunculkan masalah lain: diaper rash.

masi muat siiih, tapi...

Penjelasannya begini *eisss... Seperti yg kita tahu, bagian bawah jumper yg berkancing rapat membuat pakaian tersebut bisa menahan popok agar ngga melorot. Dilihat dari segi estetika sih ini OK ya, karena penampilan bayi jadi lebih rapi dan bikin emeshhh. Tapi dari segi kebersihan, potongan jumpsuit yang sedemikian rupa mampu menahan popok akan membuat area di sekitar popok menjadi teriritasi. Permukaan popok yg sudah terisi air pipis/kotoran BAB jadi menempel di kulit bayi dalam jangka waktu yang lama (bisa 2-3jam), dengan demikian menyebabkan area popok menjadi semakin pengap lembab dan ini jadi kondisi ideal bagi kuman / kotoran untuk makin berkembang biak dan menimbulkan iritasi di kulit bayi.

Okesip...

Ini ditambah dengan Aisyah yang banyak gerak. Gesekan intens yang terjadi antara kulit dengan permukaan popok saat Aisyah lari-larian, manjat, jongkok, merangkak, dsb akan memicu perlecetan. Itu yg bikin perih sampai merintih-rintih :'... So, justru lebih safe kalau debaynya pakai celana biasa aja, karena saat popok penuh (yg mana suka ngga kita sadari ternyata udah penuh), popok masih bisa 'menggantung' gitu. Ini justru meminimalisir diaper rash karena kulit jadi minim gesekan serta perlembaban, sehingga meminimalisir resiko iritasi.

*meuni bisaan gini euy jelasinnya wkwkw

Saya pun mengambil sehelai tissue dan membasahinya dengan air mineral. Saya bersihkan area kulit yang teriritasi. Patut disayangkan ke Jakarta ini saya gak bawa diaper rash cream euy.... Jadinya, saya coba oleskan sedikit minyak telon tipis-tipis untuk mengurangi ruam dan nyeri. Insya Allah, banyak sekali manfaat yang terkandung di dalam minyak telon, antara lain untuk menghangatkan badan, meredakan gatal/gigitan serangga, antimikroba dan menghambat pertumbuhan jamur, melembabkan kulit secara alami, dan mengatasi gejala eksim. Masya Allah...

bisa meredakan diaper rash eyyy

Saya mencoba mengASIhi Aisyah lagi, dan kali ini alhamdulillah si bocil berangsur anteng. Nggak lama kemudian Aisyah pun bisa tertidur. Alhamdulillah... Dramanya selesai, emaknya ngerasa plonnng dan jadi bisa beristirahat yaaa. Sambil berdoa semoga besok pagi ruam-ruamnya bisa sembuh, aamiin, dan sambil reminder-in diri sendiri untuk ngga makein jumper yg ngepas-ngepas lagi ke Aisyah :') ... Dan alhamdulillah lega bangeeet, pagi ini ruam popoknya hilang dooong huhuhuu. Well, saya sendiri sebenernya ngga menyarankan pakai minyak telon ini ya kalau debay kena diaper rash, saya pakaiin minyak telon mengingat ruam popoknya Aisyah masih ringan, tipis, dan sedikit. Selama ada diaper rash cream, ya sebaiknya pakailah diaper rash cream mengingat formulasinya khusus untuk indikasi ruam popok. Thanks for reading my story yaa Moms, and have a nice day :)

December 21, 2019

Saat Aisyah Mogok Mamam

Hello Mommies. Setelah jadi buibu, saya menemukan satu fakta yg menarik sekaligus mencengangkan bahwa nafsu makan si buah hati ternyata berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan yang akan saya rasakan.

Hahaha. Ada Mommies yg kaya gini juga, cuuung!

Yaa, sebagai emaknya Aisyah, saya berharap dan selalu berusaha seoptimal mungkin setiap harinya mempersiapkan bahan nutrisi terbaik demi tumbuh kembang Aisyah. Mulai dari belanja dan stocking sayur mayur + bebuahan di kulkas, trus mikirin variasi menu hari itu, dan juga mengolahnya, yang kesemuanya itu, selama seorang ibu berkomitmen untuk mengasuh dan mengasihi si buah hati, adalah salah satu rutinitas penting yang tiada akan pernah berhenti.

Kalau Aisyah makannya lahappp, masya Allah bahagia banget rasanya. Kaya pengen teriak "yesss yesss!", sensasinya kayak kalau bapak2 nonton klub kesebelasannya berhasil memasukkan bola ke gawang lawan. "Gooooolll!!!". Hahaha.

Karena Aisyah bisa makan dari sumber yang sehat, bergizi, dan nikmat adalah target. Dan saat emaknya bisa mewujudkannya adalah prestasi. Target yang tercapai adalah prestasi, dan prestasi itu salah satu faktor yang bikin kita merasa sukses dan bahagia.

"Itu!..." -- diucapinnya pake intonasinya Om Mario Teguh wkwkw.

Trus, demikian juga sebaliknya. Ada saat-saat Aisyah lagi susah makan. Nah itu momen -momen 'hiks' bagi saya (yg ngga doyan makan kan anaknya, yg stress ibunya wkwkw). Gimana ngga stress, emaknya udah perform maksimal nyiapin makanan sehat, eh anake malah lagi ngga kondusif untuk menyambut makanan itu -- di sinilah kemudian saya kembali belajar untuk ikhlas hehe. Makanan jd dingin, dan seringkali kebuang percuma.

"Hmmphfftt!"

Ada beberapa momen yg biasanya ngacauin mood makannya Aisyah: lagi excited/semangat sama mainan/objek baru, lagi di tempat sodara ketemu bnyk orang, lagi sakit, dan saat lidahnya udah kena dot/ makanan/cemilan yg manis duluan... Mau nggak mau, mamanya jd latihan sabar lagi, sekaligus belajar banyak, nyari cara supaya Aisyah mau makan.

Nah di bawah ini akan saya jelasin cara-cara yg biasa dilakukan agar nafsu makan Aisyah kembali normal lagi:

1. Ganti karbo nasi jadi mie, kentang, dsb.
Saat nasi susah masuk, biasanya saya kasih Aisyah bentuk karbohidrat lain seperti roti, mie, kentang rebus, dsb. Aisyah biasanya jadi kayak curious gt, dipegang2, ditowel-towel, trus akhirnya mendarat deeeh segenggam makanan di mulutnya... Contohnya saat Aisyah dikasih mie, bakal butuh sedikit waktu bagi Aisyah untuk menginterogasi mie itu wkwkw. Dia colek-colek dulu, ditarik-tarik, digantung-gantung, memastikan sajian yg ada di piringnya adalah makanan, bukan karet, sebelum akhirnya dia makan :D.

2. Bikin nasi kepal
Salah satu kebiasaan Aisyah saat lg males mamam tu nebar-nebarin nasi yg ada di piringnya ke lantai (yg kemudian dia pungutin lagi satu-satu gt n masuk mulut wkwk). Saya suka variasiin bentuk makanan supaya Aisyah 'lupa' sama habitnya tadi. Salah satunya bikin nasi kepal. Nasi dicampur lauk halus/cincang (bisa telur, ayam, ikan), kemudian dikepal dibikin bola-bola seukuran kurma. Nah, ini bikin Aisyah semangat makan lagi karena makanannya langsung dia 'kuasai' dan bisa dibawa sambil dia mondar mandir gt.

3. Bikin bakwan
Trik yg satu ini selalu mempan bikin Aisyah kembali doyan makan. Saya jg heran entah kenapa setiap saya bikinin bakwan ni bocah enjoy banget makannya. Oh iya, bakwan buat si kecil bisa kita kreasikan sedemikian rupa supaya menjadi bakwan yg kaya nutrisi tapi jg kids friendly. Caranya:

  • Gunakan terigu kategori protein sedang (tepung serbaguna). Yang biasa saya pakai itu Segitiga Biru. Tepung serbaguna akan membuat tekstur gorengan renyah di luar tapi smooth di dalam, pas buat membangkitkan selera makan si kecil.
  • Jejali adonan dengan aneka campuran sayuran yang dicincang halus. Wortel, kol, dan bawang daun adalah tiga kombinasi langganan saya. 
  • Bisa juga sih ditambah dengan non-sayuran seperti daging ayam/telur ayam/kornet cincang untuk memperkaya proteinnya.
  • Goreng di minyak yang baru, dan gunakan tissue dengan cara agak menekan-nekan permukaan si bakwan untuk menyerap sisa minyaknya saat telah ditiriskan. 


4. Kasih pilus
Nah ini tricky juga. Si bocah emang suka banget sama sesuatu yg renyah gt, seperti kerupuk, keripik, dan nggak terkecuali pilus. Makan pakai pilus ngebikin Aisyah makannya bersemangat. Ambil satu sendok nasi+lauk, lalu kasih 1-2 pilus di atasnya. Tebak... apa yg akan terjadi? Seketika Aisyah kayak dibikin terpana gitu demi melihat dua biji pilus hendak disuapin ke mulutnya wkwkkw. Dan, ngga lama kemudian, "haaaap", Aisyah memakan suapannya sambil "kriuk kriuk" terdengar suara pilus mulai hancur lebur di dalam mulutnya wkwkw.

5. Makan di jam yang tepat
Ini artinya Aisyah makan sesuai jadwal makannya sehari-hari dan makan di saat dia sedang lapar (biasanya saya stop kasih camilan satu jam sebelum makan besar). Sebabnya, saat dia masih kenyang cemilan/susu, dia nggak bernapsu nyentuh makanan di piringnya.

Itulah tips mamanya Aisyah saat Aisyah lagi susah emam. Kalau Mommies gimana, biasanya melancarkan taktik apa aja supaya si kecil kembali semangat makan? Yuk share di kolom komentar ;) !

December 6, 2019

ISK, Sebuah Perjalanan Panjang Meraih Kesembuhan (Part 2)

Empat bulan berlalu setelah pengobatan pertama di Part 1 tanpa ada perubahan yang berarti setelahnya. Paling hanyalah rasa sakit saat berkemih yang agak berkurang, dan itu juga cuma sebentar. Tidak lama kemudian, infeksi kembali lagi bertingkah, di mana nyeri dan panas yang sangat saat BAK mulai sering muncul, dan kini sering disertai warna urin yang keruh dan agak kemerahan, dan mulai keluar gumpalan darah.

Ya, serius, beneran, sampai drama pipis berdarah-darah hehe...

*Astaghfirulloh...

Berselang tidak lama, saya lalu jatuh sakit. Suatu malam saya merasakan badan demam meriang. Dan warna urin pun semakin keruh disertai sejumlah gumpalan darah yang lebih banyaj. Sebutir paracetamol akhirnya saya telan untuk meredakan demam. Sambil membaca-baca artikel ISK di google, pikiran saya pun berkecamuk, gelisah dan takut akan kemungkinan terburuk dari ISK kronis yg saya derita, yakni komplikasi gagal ginjal.

Keesokan harinya saya kembali memeriksakan diri. Kali ini saya ditemani pak suami dan si kecil untuk berobat ke klinik yang berada tidak jauh dari rumah kami. Saat itu badan terasa lemas, tidak nafsu makan, sering kebelet BAK, dan timbul rasa perih di area kemaluan manakala saya berjalan. Nampaknya infeksi sudah semakin parah. Setelah menyelesaikan pendaftaran dan menunggu antrian, tibalah nama saya dipanggil. Saya pun menjelaskan keluhan yang saya alami kepada dokter. Sambil memeriksa saya, dokter pun melakukan semacam pukulan menggunakan kedua tangannya di area pinggang saya. "Sakit, bu?" tanyanya. "Ngga dok". Dokter menjelaskan bahwa apabila ads sakit yang timbul di saat ada pukulan di area pinggang, itu mengindikasikan batu ginjal. Alhamdulillah, saya ngga merasakan nyeri pukul. Guna diagnosa yg lebih pasti, kemudian dokter memberikan saya rujukan untuk tes urin rutin di lab setempat. Melalui tes urin, akan lebih terlihat bagaimana kondisi kesehatan saya terkait keluhan ISK.

Tes urin pun lalu saya jalani. Setelah menunggu sekitar 20 menit, petugas lab pun memanggil nama saya dan memberikan amplop hasil tes. Saya kemudian segera menuju ruang praktek dokter, dan menyerahkan hasil tes yang menyatakan bahwa terdapat protein, leukosit, dan eritrosit di dalam urine saya, yang artinya ada infeksi di dalam saluran kemih.

Hasil tes urin rutin

Dokter pun mengingatkan saya agar banyak minum air putih, serta mengurangi konsumsi kopi dan teh (hiks hiks). Saya pun dihimbau untuk senantiasa menjaga kebersihan area kewanitaan, dan membersihkan area kewanitaan dengan arah yang benar yaitu dari arah depan ke belakang agar mencegah kuman yg berasal dari belakang (dubur) terbawa ke area lubang kencing. Saya diresepi ciproflocaxin lagi untuk dosis 5 hari, serta parasetamol seandainya kembali demam/nyeri. Setelah menebus obat, kami pun pulang. Di rumah, saya masih merasakan demam (yang munculnya menjelang sore hari) hingga hari ketiga. Namun saya tetap berhuznudzon, "karena menuju kesembuhan butuh proses" begitu ucap saya pada diri sendiri. Setelah tuntas antibiotik, perlahan kondisi fisik saya pun mulai pulih alhamdulillah, namun nyeri BAK masih tetap terasa.


Berobat Ketiga: Spesialis Penyakit Dalam

Beberapa minggu setelah kondisi kesehatan saya membaik, saya sekeluarga pun pergi ke rumah orang tua untuk berlibur, oh iya saat itu momennya tengah memasuki pekan-pekan terakhir Bulan Suci Ramadhan. Karena saat itu pak hubby masih sibuk, jadi kami hanya bisa bersama di Pondok Gede cuma beberapa hari, kemudian pak hubby kembali lagi ke Jatinangor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum kembali mudik ke Jakarta merayakan Idul Fitri.

Di rumah ortu saya bisa santai dan refreshing sambil memulihkan kesehatan, karena Aisyah ada yang ngebantuin ngasuh. Saya juga bisa hangout sana hangout sini hehe. Tapi bener deh selama masih menderita ISK, acara-acara hangout akan berkurang keseruannya. Nyeri di kemaluan terkadang suka muncul saat saya berjalan dan tentunya jadi ada sampai beberapa kali agenda nyari toilet umum karena sensasi beser yang sulit ditahan :' . Belum lagi nyeri saat pipis yag harus dirasakan, dan bersiap-siap syok juga saat air seni yang kini kemerahan disertai gumpalan darah.

Mumpung di tempat ortu, saya pun memutuskan kembali berobat untuk kesekian kalinya dengan keluhan yang sama, namun kali ini saya memutuskan untuk mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam. Mungkin ada diagnosis yg lebih lengkap dan terapi pengobatan yang lebih akurat, begitu pertimbangan saya. Saya pun meneguhkannhati untuk berangkat menuju rumah sakit, dan memeriksakan diri.

Alhamdulillah, hari itu rumah sakit ngga terlalu padat mungkin karena orang-orang sudah mulai pergi mudik. Saat saya masuk ruangan periksa, dokter menyambut saya dengan ramah dan meminta saya menjelaskan keluhan yang saya alami. Dengan seksama beliau menyimak penjelasan saya sambil beberapa kali bertanya dan terlihat mencatat sesuatu di mal file. Kemudian beliau memberikan rujukan kepada saya untuk langsung melakukan tes urin lengkap. Segera saya menuju lab dan mengambil tes urin lengkap. Petugas lab pun sempat berkomentar saat menyerahkan hasilnya, "mbak lagi mens? Ini ada darah di urine nya." Saya tersenyum, dan menjawab "ngga mbak, ini emang lagi ISK".

Sayapun kembali menemui dokter, setelah mengamati hasil lab, beliau bilang bahwa selain terdapat darah di urin urine saya positif kuman. Dokter menjelaskan, selain karena ISK, darah di dalam urine bisa juga berasal dari kristal/batu ginjal. Batu tersebut mengalir menuju saluran kencing, dan tersangkut di sana. Permukaan batu/kristal yang kasar dan tajam mampu melukai jaringan disekitarnya sehingga menyebabkan perdarahan, sehingga darah larut bersama urine.

Hasil tes urine lengkap saat
pemeriksaan ketiga

Wah, jadi surprised juga dengernya kalau memang benar suspeknya ada kristal nyangkut. Sembari memberikan resep, dokter juga memberi rujukan untuk mengambil tes USG abdomen untuk melihat apakah ditemukan endapan batu/kristal di saluran kemih. Tapi, karena hari itu bagian radiologi sedang tutup, yowis USG nya entar-entar aja, yang penting dapat resep dulu. Saat itu resepnya agak lain, dokter ngga ngasih cipro lagi, tapi obat golongan pipemidic acid (mereknya Urinter), kemudian tablet natrium bikarbonat (soda) untuk meluruhkan kristal (jikalau memang benar ada kristal), dan semacam pereda sakit/kolik.

Pipemidic acid  dan natrium bikarbonat saya minum hingga habis. Dan lagi, nyeri ISK masih tetap terasa. Saya kembali menghela nafas, ternyata memang penuh drama ya perjalanan demi meraih kesembuhan ISK hehe, inipun masih belum sembuh sepenuhnya. Tapi saya nggak akan menyerah, karena entah bagaimana hati kecil membisikkan bahwa saya akan bisa melewati ini semua dan sembuh, insya Allah. Aamiin... (bersambung ke Part 3)

December 4, 2019

Review Olay White Radiance Intensive Whitening Lotion

Hai hai Beauties. Siapa sih yang nggak ingin punya kulit sehat, cantik, dan berseri? Pasti kita semua pengen doong. Rahasia untuk bisa dapetin kulit sehat, cantik, dan berseri yang paling utama ialah dengan menjaga skin barrier nya, yaitu lapisan luar kulit yang berfungsi untuk menjaga kulit kita dari bahaya eksternal seperti polusi, radiasi UV, virus, bakteri, dan bahan kimia berbahaya serta menahan kelembapan kulit. Kulit wajah yang senantiasa lembab akan menjaga wajah dari masalah-masalah seperti kekeringan, over berminyak, kulit mengelupas, iritasi, hingga munculnya garis-garis halus di wajah. Jika kita malas melembabkan kulit dan membiarkannya kering dan nggak ternutrisi, maka proses penuaan awal berupa munculnya keriput juga semakin cepat terjadi. Parahnya lagi, garis-garis halus yang tadinya tak terlalu terlihat akan berkembang nyata menjadi kerutan. Tentunya kita nggak ingin wajah kita terlihat kusam dan lebih tua, bukan?

Nah, untuk menghindari itu semua, salah satu caranya ialah dengan telaten menjaga kelembapan wajah dengan rutin memakai pelembab wajah/moisturizer. Dan aku baru aja beberapa hari ini nyobain moisturizer dari Olay, White Radiance Intensive Whitening Lotion.



Alasan aku purchase ini karena pelembab day cream ku yg lama udah hampir habiiis. Sambil brosing2 berbagai merek dan nyocokin ingredients nya, akhirnya jatuhlah pilihanku pada Olay ini.

Yang bikin aku jatuh cinta itu pertamakali karena kemasannya. Ngga berbentuk jar seperti daycream ku yg lama, tp bentuk botol yang imut banget dengan volume yg lumayan yaitu 30ml. Ukurannya yg mini ini bisa dimasukkin ke dompet kosmetik dan ringkes dibawa kemana-mana. Ngga bikin pouch ngejendol gitu hehe.

Dan di tengah-tengah banyak ragam produk Olay baru yang lagi beredar, Olay botol ini sebenarnya produk lama (yang cuma ganti tampilan botol) yang masi aja stand out, mungkin karena memang banyak pengguna setianya hehe. Kemudian alasan berikutnya aku purchase Olay ini tentunya karena ingredientsnya sendiri yang ternyata ngga kaleng-kaleng. Sebelum memutuskan mau beli moisturizer baru, aku emang picky banget. Setelah nentuin kebutuhan kulit wajahku, trus mulai deh gerilya ngecek-in ingredients antara produk yg satu dengan yang lainnya. Dan tibalah saat ngecek ingredients Olay, aku ter-wow wow, karena dia multifungsi: brightening, wound healing, anti aging, sama UV protection.

Komposisi: Water, Glycerin, Ethylhexyl Salicylate, Niacinamide, Butyl Methoxydibenzoylmethane, Isopropyl Isostearate, Octocrylene, Phenylbenzimidazole Sulfonic Acid, Polyethylene, Polyacrylamide, Triethanolamine, Benzyl Alcohol, Panthenol, Tocopheryl Acetate, Titanium Dioxide, C13-14 Isoparaffin, Stearyl Alcohol, Behenyl Alcohol, Cetyl Alcohol, Ethylparaben, Fragrance, Laureth-7, Carbomer, Cetearyl Alcohol, Cetearyl Glucoside, Methylparaben, PEG-100 Stearate, Propylparaben, Disodium EDTA, Butylphenyl Methylpropional, Benzyl Salicylate, Butylene Glycol, Propylene Glycol, Hydroxyisohexyl 3-Cyclohexene Carboxaldehyde, Alpha-Isomethyl Ionone, Ammonium Polyacrylate, Aloe Barbadensis Leaf Juice, Morus Alba Root Extract, Coix Lacryma-Jobi Ma-Yuen Seed Extract, CI 19140.


Agen brightening nya terkandung di niacinamide (vit B3) sama morus alba root extract. Sementara, ada panthenol (vit B5) yang berperan sebagai wound healing/membantu mengobati jerawat/peradangan. Kemudian Olay ini juga dilengkapi anti aging, dari niacinamide dan tocopheryl acetate (vit E). Dan untuk tabir surya, berkumpullah 5 zat yaitu butylphenyl methylpropional, octocrylene, phenylbenzimidazole sulfonic acid, titanium dioxide, dan ethylhexyl salicylate, dengan SPF 24 yang siap melindungi wajah kita dari kejahatan sinar UV.

*duh ngebaca ingredientsnya sampe lidah ini keriting wkkwkw

Yang kusuka juga dari Olay ini ialah formulanya yang super ringan. Bentuknya yang lotion ini mudah untuk dibaurkan secara merata, dan dalam hitungan beberapa detik lotion terserap dengan sangat baik, hampir nggak ninggalin jejak minyak sedikitpun! Waktu itu ada sensasi sedikit hangat saat saya pertama kali mengoleskan lotion ini ke wajah. Tapi setelah beberapa kali pemakaian, wajah jadi bisa menyesuaikan dirinya dengan lotion ini, so ngga kerasa hangat-hangat lagi.

Tekstur lotion ringan, mudah diratakan, cepat meresap, ngga meninggalkan jejak minyak

Ini cocok buat kulitku yg normal to oily. Dan bisa banget dijadiin moisturizer sebelum foundie, karena minim minyak jd ngga ngebikin make-up longsor hehe. Pelembab ini punya sedikit wangi soft gt yaaa, tp wanginya samar bgt yang mana saat pelembab dioles ke wajah, wanginya pun sirna hehehe. So far selama seminggu pemakaian dengan frekuensi 2-3x pengaplikasian ke wajah dalam sehari, saya ngerasa cocok dan cukup puas dengan fungsi hidrasinya yg langsung terasa, dan puas juga dengan kemampuannya mempertahankan kekenyalan wajah saya. Sementara masih butuh waktu yaa untuk melihat apakah lotion ini bisa bener-bener menyamarkan noda/blemish secara optimal. That's all review dari saya mengenai pelembab Olay ini, thx for reading yaa.
Copyright © 2019 jurnaldita | Theme by RUMAH ES